Selasa, 15 Februari 2011

0 komentar
KISAH POHON APEL

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sabtu, 15 Januari 2011

Apple Tree

0 komentar
A long time ago, there was a huge apple tree. A little boy loved to come
and play around it everyday. He climbed to the tree top, ate the apples,
took a nap under the shadow. He loved the tree and
the tree loved to play with him.

Time went by. The little boy had grown up and he no longer played around
the tree everyday. One day, the boy came back to the tree and he looked sad.

"Come and play with me," the tree asked the boy.
"I am no longer a kid, I don't play around trees anymore."
The boy replied, "I want toys. I need money to buy them."

"Sorry, but I don't have money. But you can pick all my apples and sell them.
So, you will have money." The boy was so excited. He grabbed all the apples
on the tree and left happily.

The boy never came back after he picked the apples. The tree was sad.

One day, the boy returned and the tree was so excited.
"Come and play with me" the tree said.
"I don't have time to play. I have to work for family.
We need a house for shelter. Can you help me?"

"Sorry, but I don't have a house. But you can chop off my branches
 to build your house."So the boy cut all the branches of the tree and left happily.
The tree was glad to see him happy but the boy never came back since then.
The tree was again lonely and sad.

One hot summer day, the boy returned and the tree was delighted.
"Come and play with me!" the tree said. The boy said, "I am sad and getting old.
I want to go sailing to relax myself. Can you give me a boat?"

"Use my truck to build your boat. You can sail far away and be happy."
So the boy cut the tree truck to make a boat. He went sailing
and never showed up for a long time.

Finally, the boy returned after he left for so many years. "Sorry, my boy.
But I don't have anything for you anymore. No more apples for you."
the tree said.

"I don't have teeth to bite" the boy replied.
"No more truck for you to climb on"
"I am too old for that now" the boy said.
"I really can't give you anything. The only thing left is my dying roots."
the tree said with tears.

"I don't need much now, just a place to rest. I am tired after all these years."
the boy replied."Good! Old tree roots is the best place to lean on and rest.
Come, come sit down with me and rest."
The boy sat down and the tree was glad and smiled with tears.

Lessons to Learn From Heart Touching Story:

This is a story of everyone. The tree is our parent. When we were young,
we loved to play with Mom and Dad. When we grown up, we left them,
only came to them when we need something or when we are in trouble.

No matter what, parents will always be there and give everything they could
to make you happy. You may think the boy is cruel to the tree but that's how all of us
are treating our parents. So Respect Parents and help them when they really need you,
Love them,Take care of them as they take care of you when you was small baby.
Allah/God Will be happy with you if you keep your parents happy.
That is what i can
 
Copyright © Biru Langit